Fenomena Brain Rot atau pembusukan otak saat ini tengah ramai menjadi perbincangan di kalangan Generasi Z. Istilah ini secara informal merujuk pada penurunan kapasitas mental akibat konsumsi konten digital secara berlebihan.
Brain Rot menjadi metafora untuk menggambarkan kemunduran kognitif yang mungkin terjadi akibat gaya hidup modern yang sangat bergantung pada teknologi.
Kemajuan teknologi telah memungkinkan berbagai platform seperti TikTok, Instagram, YouTube, dan lainnya memanfaatkan algoritma untuk menarik perhatian pengguna.
Senior Research Fellow dari Toronto Metropolitan University, Masoud Kianpour menjelaskan, bagi banyak orang dewasa, adiksi internet atau candu digital (digital drugs) oleh para psikolog klinis dapat muncul dari berbagai aktivitas.
Mulai dari belanja digital, bermain game, judi online, hingga konsumsi pornografi. Adapun adiksi ini telah menjadi permasalahan serius terutama setelah adanya kebijakan social distancing selama pandemi COVID-19.
“Kelahiran media sosial awal abad ini sambutan antusias karena memiliki potensi untuk memberdayakan individu, memfasilitasi proses bercerita, dan menghubungkan komunitas,”
Menurut dia, rata-rata anak muda di Amerika Serikat menghabiskan lebih dari 5 jam di depan layar dan mendapatkan 237 notifikasi, satu notifikasi setiap empat menit.
Brain Rot, Istilah Paling Populer di 2024
Kementerian Kesehatan juga menyoroti terkait kebiasaan terlalu lama menggunakan media sosial. Pasalnya hal ini juga dapat berdampak pada kesehatan otak.
Hal ini lantas menimbulkan pertanyaan, apakah kebiasaan ini benar-benar bisa merusak otak hingga terkatakan membusuk?
Ia juga menyoroti generasi muda menunjukkan kesadaran diri yang jenaka tentang dampak negatif media sosial yang mereka konsumsi.
“Saya juga merasa menarik bahwa istilah ‘brain rot’ justru diadopsi oleh Gen Z dan Gen Alpha, komunitas yang paling aktif dalam menciptakan dan mengonsumsi konten digital yang istilah ini rujuk,” ujarnya.